Busway or Bust!

Jakarta. Kota berpendudukan lebih dari berjuta jiwa ini sekitar setahun setengah yang lalu mulai berkenalan dengan sistem transportasi baru yaitu Busway. Sesuai dengan namanya, sistem transportasi ini menggunakan bis sebagai alat angkutannya. Tapi pastinya udah banyak banget artikel dan atau blog yang membahas soal sistemnya dan update-update peta koridor mereka. Di artikel ini gue pengen ngebahas soal “kultur” manusia Jakarta yang nampaknya gak berubah walaupun udah mengenal sistem baru ini.

See it used to be the dream system for everybody in Jakarta. Tapi sekarang Busway sudah menjadi sesuatu yang tidak begitu spesial lagi, malah buat beberapa orang, they’ve even taken it for granted. Why do I say this? Well belakangan ini emang gue lagi rajin-rajinnya bolak-balik naik Busway, terutama koridor 6 (read: koridor Ragunan – Kuningan) buat pulang-pergi kampus tercinta. And it bothers me to know that it doesn’t really live up to its expectations, or mine at least.

Now, I said earlier about the transportation culture in Jakarta, rite? Gue rasa udah cukup banyak orang yang menumpahkan rasa kesalnya kepada sistem transportasi di Jakarta. Tapi it bugs me so much yesterday ketika gue lagi menunggu bis datang dengan setia dan tenang saat beberapa calon penumpang yang menunggu di halte yang sama tiba-tiba berteriak-teriak kesal karena ada beberapa bis yang lewat tanpa berhenti. Teriakan kesal calon penumpang A ditumpangi oleh ketawa ejekan penumpang B yang lalu dilanjutkan dengan cemooh kepada sistemnya sendiri oleh si penumpang C and so on.

Okay I understand, people want to get home soon. Tapi kan bukan mereka saja yang punya jam biologis yang harus dituruti. Busway pun mempunyai sistem yang harus dituruti. Lalu mengapa kalau ada beberapa bis yang lewat tanpa berhenti? Mereka memang tanpa penumpang. Doesn’t it cross their mind bahwa bisnya mungkin harus mengisi bahan bakar? Atau memang jam kerja para supir sudah selesai sama seperti mereka?

Another thing I want to point out is the perseverance of still going in even if the bus is too packed. Why oh why do you have to force yourself and all the other passenger to endure the same pain at every bus stop possible hanya karena bisnya terlalu penuh dan elo harus menghimpit yang lain gara-gara pintunya kebuka dan lo bisa kejepit pintu kalo gak minggir? (sorry that came from my deepest heart, hehe) Kenapa sih gak bersabar sedikit lagi, siapa tau bisa dapet yang agak lega bahkan mungkin dapat tempat duduk? I mean why force yourself?

Is this the real Indonesian culture? Bukannya the real Indonesian culture yang gue tau adalah ramah terhadap orang lain? Yang merelakan kursinya demi ibu-ibu yang lagi menggendong anaknya sambil berdiri berpegangan? Atau justru orang Indonesia (setidaknya orang Jakarta) sudah berubah menjadi orang-orang yang gak punya perasaan? Yang pura-pura tidur saat melihat seorang ibu tua masuk bis yang penuh?

Hey I’m no saint, but one thing I know is bukan begitu caranya kalo kita mau jadi bangsa yang maju; bangsa yang peduli baik terhadap orang lain maupun diri sendiri. If we don’t start now, when are we going to start caring for other people? I know and fully realize that my comments maybe harsh at some point. But it’s the truth. Ayolah, kita sama-sama menjadi manusia yang lebih baik. So maybe next time kalo lo lagi nunggu di salah satu halte busway dan bis berikutnya yang datang terlalu penuh, jangan maksa deh mendingan. Be patient. Dan kalo pun lo udah gak bisa bersabar lagi, ada dua pilihan:

1. Get out of there, there’s no point in waiting anymore if your patience already ran out. Yang ada lo malah tambah stress gara-gara harus berdiri berhimpitan. Bis-bis kota yang lain juga banyak kan?
2. Bersabarlah dikit lagi and you’ll get your reward. Trust me on that. Biarlah bis-bis yang penuh itu berlalu dan tungguin aja bis yang agak kosong lewat. You may even get a seat if you’re lucky.

Leave your comments and have a nice day! Cheers!

-andra-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s